Senin, 06 November 2017

KPHP MODEL TASIK BESAR SERKAP

A.    Kesatuan pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Model Tasik Besar Serkap
Kawasan KPHP Model Tasik Besar Serkap secara geografis terletak pada koordinat 101°55’48’’ BT s/d 103°16’12’’ BT dan 00°10’12’’ LU s/d 00°43’48’’ LU dan merupakan kawasan hutan rawa gambut terbesar yang tersisa di Pesisir Timur Pulau Sumatera yang memiliki nilai konservasi tinggi. Kawasan ini termasuk ke dalam DAS Kampar Sub DAS Sungai Serkap dan DAS Upih yang ditetapkan berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 509/Menhut-VII/2010 Tanggal 21 September 2010 dengan luas wilayah 513.276 Ha.
Wilayah pengelolaan KPHP Model Tasik Besar Serkap telah dibebani oleh perizinan, yang terdiri dari 17 IUPHHK-HT dengan luas 337.938 Ha, 4 IUPHHK-RE dengan luas 129.357 Ha dan 2 Izin Hutan Desa dengan luas 4.000 Ha. Selain itu terdapat wilayah yang belum dibebani oleh perizinan dan areal ini diperuntukkan sebagai Wilayah Tertentu KPHP Model Tasik Besar Serkap dengan luas 41.981 Ha. Sebagian areal Wilayah Tertentu tersebut telah dialokasikan untuk proyek kerjasama RI-Korea dalam skema REDD+ dengan jangka waktu pelaksanaan selama 3 (tiga) tahun yang dimulai pada Tahun 2013 sampai dengan Tahun 2015.
KPHP Model Tasik Besar Serkap memiliki kawasan konservasi berupa Suaka Margasatwa (SM) yang dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau yakni SM. Danau Pulau Besar, SM.Tasik Belat, SM.Tasik Besar / Tasik Metas dan SM.Tasik Serkap/Tasik Sarang Burung. Selain itu, pada areal kerja KPHP Model Tasik Besar Serkap juga terdapat izin penggunaan kawasan hutan berupa izin pinjam pakai kawasan hutan berupa jalan dari Sungai Rawa ke Teluk Lanus, Kabupaten Siak sepanjang 59.889 meter dengan lebar 2,6 m. Selanjutnya terdapat juga persetujuan prinsip izin pinjam pakai kawasan hutan untuk kegiatan operasi produksi sumur minyak dan gas bumi seluas 1,44 Ha an. SKK Migas-BOB Bumi Siak Pusako Pertamina Hulu.
Wilayah KPHP Model Tasik Besar Serkap terbagi kedalam 5 kategori blok pemanfaatan, yaitu Blok Pemanfaaatan Hutan Tanaman, Blok Pemanfaatan Hutan Alam/ Restorasi Ekosistem, Blok Pemberdayaan Masyarakat, Blok Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Hasil Hutan Bukan Kayu serta Blok Khusus.

1. Iklim
Wilayah KPHP Model Tasik Besar Serkap yang berada pada dua Kabupaten yaitu Siak dan Pelalawan umumnya beriklim tropis. Berdasarkan pada data dan informasi yang diperoleh dari Kabupaten Siak Dalam Angka diketahui bahwa Kabupaten siak beriklim tropis, dengan suhu udara berkisar antara 250 - 320 C.
Rata-rata hari hujan Kabupaten Siak per bulan per tahun adalah 7,41 hari/bulan/tahun. Rata-rata hari hujan tertinggi adalah pada tahun 2011 yaitu sebesar 17,92 hari /bulan. Sedangkan yang terendah pada tahun 2013 yaitu sebesar 1,45 hari /bulan. Rata-rata curah hujan Kabupaten Siak per bulan per tahun adalah 106,53 mm. Rata-rata curah hujan per bulan tertinggi adalah pada tahun 2011 yaitu sebesar 203,65 mm, sedangkan rata-rata curah hujan per bulan terendah terdapat pada tahun 2013 yaitu sebesar 35,11 mm.

2. Kondisi Topografi dan jenis Tanah
Berdasarkan peta topografi dan pengamatan langsung di lapangan, keadaan topografi pada sebagian besar areal KPHP Model Tasik Besar Serkap relatif datar (kemiringan 0 – 8 %) dengan ketinggian 6 – 20 mdpl. Kondisi lahan hampir 100% meliputi dataran rawa gambut yang terbentuk dari endapan aluvium muda dan tua yang terdiri dari endapan pasir, danau, lempung, sisa tumbuhan dan gambut.
Berdasarkan penggolongan jenis tanah, areal KPHP Model Tasik Besar Serkap didominasi oleh tanah Organosol/ Gambut dan sebagian kecil berupa tanah Aluvial dan Podsolik. Tanah Organosol sering disebut tanah gambut yang mengandung banyak bahan organik tanah sehingga perkembangan tanah dipengaruhi oleh tingkat kematangan, dekomposisi dan sifat-sifat bahan organik yang bersangkutan. Secara morfologis, tanah ini dicirikan oleh pembentukan horizon-horizon yang berwarna coklat kelam sampai hitam, berkadar air tinggi dan bereaksi sangat masam (pH 3-5).

3. Potensi Kayu dan Non Kayu
Pada areal pemegang izin, potensi hasil hutan kayu didominasi oleh jenis – jenis kayu hutan alam dan hutan tanaman. Jenis kayu hutan alam seperti Meranti, Balam, Suntai, Punak, Ramin, Kempas, Bintangur, Jangkang, Kelat dan jenis rimba campuran lainnya. Sementara kayu – kayu hutan tanaman adalah jenis Akasia (Acasia sp), Karet (Hevea sp, Kayu Putih (Melaleuca sp) dan Ekaliptus (Eucalyptus sp). Berdasarkan analisa data Permanent Plot Sampling (PSP) PT.RAPP diketahui pertumbuhan dan riap Akasia Mangium pada jarak tanam 3 x 2 m pada tahun ketiga adalah 18,7 m3/ha/thn dan pada tahun keenam adalah 30,9 m3/ha/thn. Pertumbuhan tanaman mencapai puncak pada umur 5 – 6 tahun dengan riap MAI antara 30,7 – 30,9 m3/ha/thn.
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan pada kegiatan inventarisasi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat dan inventarisasi biogeofisik, beberapa hasil hutan bukan kayu yang terdapat di Desa-Desa sekitar KPHP Model Tasik Besar Serkap dan kawasan hutannya adalah sebagai berikut:
1.      Damar
2.      Madu Hutan
3.      Sagu
4.      Karet
5.      Walet
6.      Sukun
7.      Tanaman hias

4. Potensi Fauna
KPHP Model Tasik Besar Serkap merupakan wilayah yang memiliki keanekaragaman fauna yang masih cukup besar. Satwa liar yang ditemui terdiri dari aves, mamalia dan reptilia. Kondisi habitatnya dapat dibagi menjadi habitat hutan gambut primer, hutan gambut sekunder, danau, sungai, saluran air (kanal) dan hutan gambut terbuka (meliputi jalan eksplorasi minyak, semak belukar, bekas tebangan/ kebakaran).
Satwa liar yang masih bisa ditemui pada areal KPHP Model Tasik Besar Serkap adalah Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Beruang (Helarctos malayanus), Rangkong (Buceros rhinoceros), Tapir (Tapirus indicus), Ikan Arwana (Scleropages formosus), Ungko (Hylobates agilis), Bluwok (Mycteria cinerea), Punai Besar (Treron capellei), Alap-Alap Jambul (Accipiter trivirgatus), Enggang Hitam (Anthracoceros malayanus), Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster), Elang Bondol (Haliastur indus), Elang Kecil (Hieraaetus kienerii), Blue-Crowned Hanging Parrot (Loriculus galgulus), Elang Belalang (Microhierax fringiella), Punggok (Ninox scutulata), Collared Scops-Owl (Otus lempiji), Alap-Alap Madu (Pernis ptilorhynchus), Long-Tailed Parakeet (Psittacula longicauda), Elang Ular (Spilornis cheela) dan Elang Hitam (Spizaetus cirrhatus).

5. Jasa Lingkungan

Bono merupakan nama ombak pada sebuah sungai yang terletak di Kelurahan Teluk Meranti. Ombak Bono, begitu masyarakat sekitar sering menyebutnya. Ombak bono menjadi salah satu daya tarik wisata yang patut dikembangkan, terlebih lagi area tersebut masuk ke dalam kawasan KPHP Model Tasik Besar Serkap. Ombak bono menjadi potensi jasa lingkungan yang menarik minat perhatian wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Ombak Bono yang besar biasanya muncul di bulan – bulan tertentu, dan puncaknya pada bulan November dan pada saat itu wisatawan banyak melakukan kegiatan olahraga seperti surfing. Tidak hanya ombaknya saja sebagai objek wisata, tetapi ada banyak hal lain yang dapat dikembangkan dan menarik minat perhatian wisatawan, seperti dilakukannya kegiatan upacara adat masyarakat setempat dengan menampilkan ciri khas adat yang terdapat di kelurahan tersebut, makanan tradisional, pakaian tradisional, dan tarian tradisional.