A.
Kesatuan
pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Model Tasik Besar Serkap
Kawasan
KPHP Model Tasik Besar Serkap secara geografis terletak pada koordinat
101°55’48’’ BT s/d 103°16’12’’ BT dan 00°10’12’’ LU s/d 00°43’48’’ LU dan
merupakan kawasan hutan rawa gambut terbesar yang tersisa di Pesisir Timur
Pulau Sumatera yang memiliki nilai konservasi tinggi. Kawasan ini termasuk ke
dalam DAS Kampar Sub DAS Sungai Serkap dan DAS Upih yang ditetapkan berdasarkan
SK Menteri Kehutanan Nomor 509/Menhut-VII/2010 Tanggal 21 September 2010 dengan
luas wilayah 513.276 Ha.
Wilayah
pengelolaan KPHP Model Tasik Besar Serkap telah dibebani oleh perizinan, yang
terdiri dari 17 IUPHHK-HT dengan luas 337.938 Ha, 4 IUPHHK-RE dengan luas
129.357 Ha dan 2 Izin Hutan Desa dengan luas 4.000 Ha. Selain itu terdapat
wilayah yang belum dibebani oleh perizinan dan areal ini diperuntukkan sebagai
Wilayah Tertentu KPHP Model Tasik Besar Serkap dengan luas 41.981 Ha. Sebagian
areal Wilayah Tertentu tersebut telah dialokasikan untuk proyek kerjasama
RI-Korea dalam skema REDD+ dengan jangka waktu pelaksanaan selama 3
(tiga) tahun yang dimulai pada Tahun 2013 sampai dengan Tahun 2015.
KPHP
Model Tasik Besar Serkap memiliki kawasan konservasi berupa Suaka Margasatwa
(SM) yang dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau
yakni SM. Danau Pulau Besar, SM.Tasik Belat, SM.Tasik Besar / Tasik Metas dan
SM.Tasik Serkap/Tasik Sarang Burung. Selain itu, pada areal kerja KPHP Model
Tasik Besar Serkap juga terdapat izin penggunaan kawasan hutan berupa izin
pinjam pakai kawasan hutan berupa jalan dari Sungai Rawa ke Teluk Lanus,
Kabupaten Siak sepanjang 59.889 meter dengan lebar 2,6 m. Selanjutnya terdapat
juga persetujuan prinsip izin pinjam pakai kawasan hutan untuk kegiatan operasi
produksi sumur minyak dan gas bumi seluas 1,44 Ha an. SKK Migas-BOB Bumi Siak
Pusako Pertamina Hulu.
Wilayah
KPHP Model Tasik Besar Serkap terbagi kedalam 5 kategori blok pemanfaatan,
yaitu Blok Pemanfaaatan Hutan Tanaman, Blok Pemanfaatan Hutan Alam/ Restorasi
Ekosistem, Blok Pemberdayaan Masyarakat, Blok Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan
Hasil Hutan Bukan Kayu serta Blok Khusus.
1.
Iklim
Wilayah
KPHP Model Tasik Besar Serkap yang berada pada dua Kabupaten yaitu Siak dan
Pelalawan umumnya beriklim tropis. Berdasarkan pada data dan informasi yang
diperoleh dari Kabupaten Siak Dalam Angka diketahui bahwa Kabupaten siak
beriklim tropis, dengan suhu udara berkisar antara 250 - 320 C.
Rata-rata hari hujan Kabupaten Siak per bulan per
tahun adalah 7,41 hari/bulan/tahun. Rata-rata hari hujan tertinggi adalah pada
tahun 2011 yaitu sebesar 17,92 hari /bulan. Sedangkan yang terendah pada tahun
2013 yaitu sebesar 1,45 hari /bulan. Rata-rata curah hujan Kabupaten Siak per
bulan per tahun adalah 106,53 mm. Rata-rata curah hujan per bulan tertinggi
adalah pada tahun 2011 yaitu sebesar 203,65 mm, sedangkan rata-rata curah hujan
per bulan terendah terdapat pada tahun 2013 yaitu sebesar 35,11 mm.
2.
Kondisi Topografi dan jenis Tanah
Berdasarkan peta topografi dan pengamatan langsung
di lapangan, keadaan topografi pada sebagian besar areal KPHP Model Tasik Besar
Serkap relatif datar (kemiringan 0 – 8 %) dengan ketinggian 6 – 20 mdpl.
Kondisi lahan hampir 100% meliputi dataran rawa gambut yang terbentuk dari endapan
aluvium muda dan tua yang terdiri dari endapan pasir, danau, lempung, sisa
tumbuhan dan gambut.
Berdasarkan penggolongan jenis tanah, areal KPHP
Model Tasik Besar Serkap didominasi oleh tanah Organosol/ Gambut dan sebagian
kecil berupa tanah Aluvial dan Podsolik. Tanah Organosol sering disebut tanah
gambut yang mengandung banyak bahan organik tanah sehingga perkembangan tanah
dipengaruhi oleh tingkat kematangan, dekomposisi dan sifat-sifat bahan organik
yang bersangkutan. Secara morfologis, tanah ini dicirikan oleh pembentukan
horizon-horizon yang berwarna coklat kelam sampai hitam, berkadar air tinggi
dan bereaksi sangat masam (pH 3-5).
3.
Potensi Kayu dan Non Kayu
Pada areal pemegang izin, potensi hasil hutan kayu
didominasi oleh jenis – jenis kayu hutan alam dan hutan tanaman. Jenis kayu
hutan alam seperti Meranti, Balam, Suntai, Punak, Ramin, Kempas, Bintangur,
Jangkang, Kelat dan jenis rimba campuran lainnya. Sementara kayu – kayu hutan
tanaman adalah jenis Akasia (Acasia sp), Karet (Hevea sp, Kayu
Putih (Melaleuca sp) dan Ekaliptus (Eucalyptus sp).
Berdasarkan analisa data Permanent Plot Sampling (PSP) PT.RAPP diketahui
pertumbuhan dan riap Akasia Mangium pada jarak tanam 3 x 2 m pada tahun ketiga
adalah 18,7 m3/ha/thn dan pada tahun keenam adalah 30,9 m3/ha/thn. Pertumbuhan
tanaman mencapai puncak pada umur 5 – 6 tahun dengan riap MAI antara 30,7 –
30,9 m3/ha/thn.
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan pada kegiatan
inventarisasi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat dan inventarisasi
biogeofisik, beberapa hasil hutan bukan kayu yang terdapat di Desa-Desa sekitar
KPHP Model Tasik Besar Serkap dan kawasan hutannya adalah sebagai berikut:
1.
Damar
2.
Madu Hutan
3.
Sagu
4.
Karet
5.
Walet
6.
Sukun
7.
Tanaman hias
4.
Potensi Fauna
KPHP
Model Tasik Besar Serkap merupakan wilayah yang memiliki keanekaragaman fauna
yang masih cukup besar. Satwa liar yang ditemui terdiri dari aves, mamalia dan
reptilia. Kondisi habitatnya dapat dibagi menjadi habitat hutan gambut primer,
hutan gambut sekunder, danau, sungai, saluran air (kanal) dan hutan gambut
terbuka (meliputi jalan eksplorasi minyak, semak belukar, bekas tebangan/
kebakaran).
Satwa liar yang masih bisa ditemui pada areal KPHP
Model Tasik Besar Serkap adalah Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae),
Beruang (Helarctos malayanus), Rangkong (Buceros rhinoceros),
Tapir (Tapirus indicus), Ikan Arwana (Scleropages formosus),
Ungko (Hylobates agilis), Bluwok (Mycteria cinerea), Punai Besar
(Treron capellei), Alap-Alap Jambul (Accipiter trivirgatus),
Enggang Hitam (Anthracoceros malayanus), Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus
leucogaster), Elang Bondol (Haliastur indus), Elang Kecil (Hieraaetus
kienerii), Blue-Crowned Hanging Parrot (Loriculus galgulus),
Elang Belalang (Microhierax fringiella), Punggok (Ninox scutulata),
Collared Scops-Owl (Otus lempiji), Alap-Alap Madu (Pernis
ptilorhynchus), Long-Tailed Parakeet (Psittacula longicauda),
Elang Ular (Spilornis cheela) dan Elang Hitam (Spizaetus cirrhatus).
5.
Jasa Lingkungan
Bono merupakan nama ombak pada sebuah sungai yang
terletak di Kelurahan Teluk Meranti. Ombak Bono, begitu masyarakat sekitar
sering menyebutnya. Ombak bono menjadi salah satu daya tarik wisata yang patut
dikembangkan, terlebih lagi area tersebut masuk ke dalam kawasan KPHP Model
Tasik Besar Serkap. Ombak bono menjadi potensi jasa lingkungan yang menarik
minat perhatian wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Ombak Bono yang
besar biasanya muncul di bulan – bulan tertentu, dan puncaknya pada bulan
November dan pada saat itu wisatawan banyak melakukan kegiatan olahraga seperti
surfing. Tidak hanya ombaknya saja sebagai objek wisata, tetapi ada
banyak hal lain yang dapat dikembangkan dan menarik minat perhatian wisatawan,
seperti dilakukannya kegiatan upacara adat masyarakat setempat dengan
menampilkan ciri khas adat yang terdapat di kelurahan tersebut, makanan
tradisional, pakaian tradisional, dan tarian tradisional.